istihadhah


Hai para cewek – cewek, hehe, (saya nggak lesbi lho, Cuma nyapa).

istihadhah

Emm, apa sih yang kalian tanya – tanyakan seputar haid, hal – hal yang nggak boleh dilakukan apa aja ya? Emm, mari kita ulas pada pembahasan berikut. Disini saya mengutip dari buku Mutiara Ibadah, Syekh Abubakar Jabir Eljazairi. Hehe kalo ga ambil dari buku buat referensi nya kayaknya ya kurang afdol yah?

Ternyata wanita yang sedang mengalami haid, tidak diperkenankan shalat. Ya iyalah, kalo itu mah semua udah tau yah? Juga tidak diperkenankan shiam (puasa), masuk masjid, menyentuh Al-Qur’an, menggauli suami dan sebagainya sampai dia suci. Lamanya masa haid antara wanita yang satu dengan yang lainnya tidak sama, ada yang tiga hari ada pula yang sampai dua minggu.

Kalian tau kan sist, setelah selesai haid, diharuskan mandi wajib. Kemudian barulah diperbolehkan mengerjakan apa yang dilarang sewaktu haid. Emm, sist, ini yang penting, perhatikan ya? Jika setelah suci dan mandi, kemudian terlihat cairan berwarna kuning keluar dari rahim, maka hendaknya diteruskan sholatnya. Sebab, cairan itu bukan haid.

Sist, kalian pernah dengar ga? Wanita yang terus – terusan haid. Sebenarnya tidak haid sih, tapi mengeluarkan arah dari rahimnya…. kata buku itu sih hukumnya adalah sebagai berikut :

  1. Apabila sebelum terkena ‘istihadhah’ (selalu mengeluarkan darah dari rahimnya), orang tersebud haid secara normal serta mengetahui tanggal dan bilangan harinya, maka ia harus meninggalkan larangan hanya dalam waktu haid tersebut, sebelum terkena penyakit. Begitu sist !
  2. Apabila sebelumnya telah mengalami haid yang tidak normal (tidak tentu tanggal dan harinya) atau LUPA, kemudian mendapat ‘istihadhah’, maka sebaiknya dia memeriksakan darahnya. Jika biasanya mengeluarkan darah merah encer, kemudian merah pekat dan kehitam-hitaman, maka anggaplah itu sedang haid, dan tinggalkanlah apa yang dilarang sewaktu haid. Bila kemudian darahnya kembali biasa, maka mandi dan bersucilah, kemudian lakukan lah segala yang dilarang sewaktu haid.
  3. Apabila darah itu tidak berubah sifat dan warnanya, maka hendaknya setiap bulan menganggap dirinya haid selama enam atau tujuh hari (batas normal lamanya haid). Jika batas normal itu telah dilampaui, maka hendaklah dia bersuci dan melakukan kembali apa yang dilarang selama haid. Sebuah hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i :

“Unnu Salamah minta fatwa kepada Rasulullah tentang wanita yang selalu mengeluarkan darah secara terus menerus dari rahimnya. Maka dijawab oleh Rasulullah: “Hendaklah dia memperhatikan (mengingat-ingat) akan hari – hari dia menjalani haid sebelum terkena istihadhah. Setelah melewati hari-hari tersebut, hendaklah dia bersuci dan melakukan shalat seperti biasanya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Hadist tersebut merukapakan dalil bagi wanita yang sebelum menderita istihadhah mengalami haid secara normal. Bagi wanita yang belum pernah mengalami haid, kemudian menderita istihadhah, hendaklah dia meninggalkan shalat selama enam atau tujuh hari setiap bulan, seperti layaknya orang yang haid.

Rasulullah bersabda :

“Apabila yang keluar itu darah haid, maka warnanya kehitam-hitaman dan mudah diketahui, pada saat seperti itu berhentilah shalat. Apabila darah telah kembali normal seperti biasa, maka bersucilah dan shalatlah. Ini sudah diperbolehkan karena darah yang keluar itu bukanlah darah haid, melainkan penyakit.”(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Fatimah binti Hubeisy).

Begitu sist, bagi kalian yang punya penyakit ‘istihadhah’, sekedar buat info aja yah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s