KARENA TOILET, AKU ………


aku benar benar ingin dekat dengan Mu

Suatu hari ada keajaiban yang datang pada diriku. Aku pemuda yang suka merokok, dengan gaya modis, rambut keren, dompet tebal, kendaraan ku pun avansa. Seperti hari-hari biasa aku pergi ngantor, di tengah aku bekerja, aku di ingatkan sekretarisku bahwa jam 12.00 ada pertemuan dengan client ku di sebuah hotel di Tawangmangu, Karanganyar. Saking sibuknya aku, jam 11.15 aku baru berangkat dari Solo. Sialnya hari itu pula sopirku ijin karena kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan. Aku mengemudi sendiri. Di tengah perjalanan, perut ku terasa mules. Aku pun melambatkan mobilku, menengok kanan kiri, mencari masjid agar aku bisa ke toilet untuk buang air besar. Lama ku dijalan, perutku pun terasa sangat amat sakit. Akhirnya aku menemukan masjid di kiri jalan dari arah Karanganyar pada jam 12.10. Aku terbirit-birit pergi ke toilet. Tapi saat aku menuju toilet. Seorang ibu yang keluar dari masjid menghentikan jalan ku. Dan dia berkata

“Mas, ngapunten, nyuwun tulung njenengan mang adzan nggih. Kat wau kulo nunggu dereng enten tiyang adzan”.

Dalam bahasa Indonesia, “Mas, maaf, minta tolong kamu untuk adzan ya mas. Dari tadi saya tunggu belum ada orang yang adzan”.

“He èh”.

Aku pun tersepona dan kagetmendengar kata – kata ibu itu. Aku jarang adzan, solat pun jarang sekali, apalagi ke masjid, oh tidak.

Tapi ibu itu melihat raut muka ku pertanda aku sangat ingin ke toilet.

“Nggih mas è ten wingking rumiyin mboten napa-napa, kulo tenggo, kulo nyuwun tulung sanget”.

Dalam bahasa Indonesia, “Ya mas nya ke belakang dulu tidak apa – apa, saya tunggu, saya minta tolong sangat”.

Aku hanya mengangguk, karena perut ku semakin tak bisa ku tahan. Di dalam toilet, aku sambil berfikir, apakah aku bisa nanti? Aku takut, jadi aku agak lama di toilet.

Setelah selesai aku bab, aku mengambil air wudhu. Ku ingat seingat ku cara berwudhu. Kemudian aku masuk ke masjid nan megah itu dan mulai mengumandangkan adzan. Sangat lirih sekali suara ku, karena aku takut kalau salah.

Sial benar juga sial juga. Tak ada seorang laki-laki pun yang datang ke masjid itu. Jadi aku menjadi imam. Dan makmum ku ibu-ibu yang kira jumlahnya 7 orang. Seingat ku sholat dhuhur itu ada 4 rakaat. Dan imam tidak mengeraskan suara saat membaca alfatihah dan surat pendek.

Saat sholat, aku benar – benar merasa terpanggil jiwa ku untuk rajin sholat, bersyukur kepada Yang Kuasa atas segala yang kumiliki, hidupku, ketampananku, kekayaanku, apapun yang aku mau di masa muda ku bisa terwujud.

Setelah sholat, aku berdo’a kepada-Nya. Semua unek unek ku, permintaan maafku, khilafku, egoku, kesombongan ku, aku benar – benar meminta maaf pada Nya. Dan aku mendoakan ibu itu, ibu yang telah menjadi jembatan menyadarkan ku. Aku meneteskan air mata, aku benar – benar ingin taubat. Taubat.

Karena aku mencari toilet, aku bisa begini. Ini ceritaku, apa ceritamu??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s